Reservoir Siranda, Pemicu Terjadinya Pertempuran 5 Hari

 

14 Oktober 1945, awal dari Pertempuran 5 Hari di Semarang. Sudah berlalu 78 Tahun sejak kejadian itu, akan tetapi kita tidak boleh melupakan jasa-jasa para Pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan, khususnya di Semarang.

Reservoir Siranda, bangunan tua yang berada di Jl. Diponegoro Semarang. Tepat berada di pinggir jalan raya dengan papan nama berwarna biru. Setiap orang yang melawatinya mudah untuk mengenalinya. Tempat itulah pemicu terjadi Pertempuran 5 Hari

Pada masa perang revolusi, Reservoir Siranda merupakan saksi bisu dahsyatnya pertempuran lima hari di Semarang. Pada saat itu, cadangan air yang berada di sana diduga telah diracun oleh tentara Jepang.

dr. Kariyadi yang hendak mengecek kebenaran berita bahwa penampungan air telah diracun oleh Tentara Jepang, gugur ditembak dengan keji oleh Tentara Jepang di tengah perjalanan menuju Reservoir Siranda, tepatnya di Jl. Pandanaran. Sebenarnya, istri dari dr. Kariyadi melarang dr. Kariyadi untuk pergi mengecek kebenaran bahwa air di Reservoir Siranda telah diracun oleh Tentara Jepang. Akan tetapi, dr. Kariyadi memberi pengertian kepada istrinya, bahwa kita harus mengutamakan kepentingan masyarakat Semarang daripada kepentingan sendiri. Akhirnya istri dr. Kariyadi merelakan dr. Kariyadi pergi untuk mengecek kebenaran berita bahwa Reservoir Siranda telah diracun. Peristiwa pembunuhan dr. Kariyadi itulah yang memicu semangat para pemuda Semarang untuk melawan Tentara Jepang. Sehingga terjadilah Pertempuran 5 Hari di Semarang

Reservoir Siranda dibangun oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1912. Berfungsi untuk menampung air yang mengalir dari Moedal Gunungpati. Reservoir Siranda ini menyediakan air ke beberapa daerah di Semarang, yaitu Jl. Pemuda, Simpang Lima, dan kota bawah Semarang.

Selain Reservoir Siranda, Pemerintah Belanda juga membangun 2 Reservoir lain, yaitu Reservoir Keploh dan Reservoir Jomblang.

Dari rangkaian cerita di atas, kita jadi lebih tahu, bahwa memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankannya itu tidaklah mudah. Kini saatnya kita sebagai pemuda penerus bangsa, harus mengisi kemerdekaan ini dengan apa yang kita bisa dan apa yang kita punya.

 

Oleh : Mumtaz Ghifari Riswara, Siswa SMP Kesatrian 2 Semarang

Peduli Palestina, SMP Kesatrian 2 Semarang Melakukan Sholat Ghaib dan Penggalangan Dana.

Senin (6/11/23) siswa dan para guru SMP Kesatrian 2 mengikuti sholat ghaib yang dipimpin oleh Pak Dumeri, selaku guru agama untuk mendoakan para korban di Palestina. Setelah sholat ghaib, siswa langsung melakukan penggalangan dana.

“Bencana di Palestina adalah bencana kemanusiaan, tidak terkait dengan ras maupun agama tertentu. Dan kami merasa prihatin, karena pelanggaran HAM yang terjadi secara serius. Dan kami tetap terus mendoakan Palestina dengan cara yang bisa kami lakukan, yaitu dengan sholat ghaib. Selain mendukung secara doa, kami juga melakukan penggalangan dana”, ungkap Ibu Any Martha Triwulandari, selaku Kepala Sekolah SMP Kesatrian 2.

Salah satu siswa kelas 8A, Mumtaz Ghifari Riswara merasa prihatin melihat berita di TV. Banyak korban yang meninggal. Bahkan, ia terharu melihat anak kecil yang menulis namanya di tangan. Dengan alasan, apabila meninggal, ada yang mengetahui namanya.

Mumtaz juga berpesan untuk para generasi muda, agar selalu peduli terhadap sesama, dan siap membantu dengan apa yang kita bisa.

 

 

Indahnya Toleransi Beragama, Berbeda Tapi Saling Melengkapi

 

Di Jakarta, di Gereja Katedral setiap hari Minggu, Jemaat memanfaatkan halaman parkir Masjid Istiqlal. Begitu juga kalau Jumat, umat Islam yang sholat Jumat memakai parkirkam Gereja Katedral. Di Pulau Adonara Flores NTT, Umat Muslim membantu pembangunan gereja. Lalu, ada juga umat Katholik membantu pembangunan masjid

Lalu, di Semarang banyak contoh toleransi beragama yang baik dan menyentuh hati. Seperti di Gereja Katedral Semarang, dalam berbagai kesempatan hari besar agama di Gereja tersebut sering mendapat ucapan selamat dari tokoh-tokoh agama, dan juga saat ulang tahunnya ke-94 pun, salah satu mata acara yang dilaksanakan adalah “Doa Lintas Agama”. Di lain kesempatan, di Gereja Kevikepan yang berada di Karangpanas, saat itu juga mengundang 5 pemuka agama. Mereka juga berdoa, yang juga bertajuk “Doa Lintas Agama”.

“Kami bersyukur boleh menerima berkat dari agama-agama yang lain melalui perantara pemuka agamanya dengan doa-doanya yang dipanjatkan dengan kepercayaan mereka masing-masing”, Ucap Romo Didik, selalu Romo di Keuskupan Agung Semarang, saat saya temui di Gereja Katedral Semarang belum lama ini.

Menurut Romo Didik, toleransi beragama adalah sebuah kesempatan atau peluang bagi perjumpaan orang orang dari berbagai macam Latar Belakang terutama Agama. Tapi, yang paling utama adalah dalam perjumpaan itu kita berusaha untuk bekerja sama membangun masyarakat yang baik. Kita tidak mencari perbedaan, tetapi justru mencari sesuatu yang menjadi persamaan atau kelebihan dari masing masing supaya setiap hal atau setiap perjumpaan yang kita alami selalu menjadi kesempatan bagi kita untuk menghasilkan sesuatu yang baik.

Romo Didik juga berpesan, pada kami para generasi muda, “Bagi temen temen muda terutama bagi mereka yang pasti pada kesempatan nanti akan mendapat kesempatan untuk ambil bagian dalam mengambil keputusan penting bagi negara Indonesia. Saya kira membangun toleransi beragama bisa dimulai dari masa muda, karena dengan perjumpaan dengan mereka yang beragama lain tentu menjadi kesempatan bagi kita untuk terbuka, bahwa di banyak tempat, di agama agama lain juga ada kebenaran. Sehingga ketika kita terbuka, belajar menerima, pada akhirnya, setelah memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan yang penting bagi negara, semua keputusan yang diambil adalah karena kebaikan bersama. Sehingga tidak memihak salah satu agama, tetapi semua adalah demi masyarakat yang baik, dan yang lebih besar lagi bagi kemajuan indonesia.

 

Oleh : Mumtaz Ghifari Riswara, Siswa SMP Kesatrian 2 Semarang ,