OUTDOOR LEARNING

Awal bulan oktober menjadi hari hari yang padat merayap untuk seluruh civitas academika SMP Kesatrian 2 Semarang, banyak agenda kegiatan yang harus segera diselesaikan dan perencanaan kegitan yang harus matang. Beberapa kegiatan yang sebentar lagi dilaksanakan adalah perayaan hari raya idul adha, outdoor leraning Jakarta untuk kelas VIII, outdoor learning Jogya untuk kelas VII tak ketinggalan kelas IX yang tak lama lagi mereka harus bertarung menghadapi Ujian Nasional maka mereka dipersiapkan dari sekarang, dan salah satu kegiatan yang bisa membantu siswa kelas IX untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam UN antara lain SMP Kesatrian 2 Semarang mengadakan try Out khusus kelas IX.
Outdoor lerning, apa itu outdoor learning ??? secara kasat mata outdoor learning bisa diartikan pembelajaran diluar, pembelajaran yang pada hari hari biasa peserta didik duduk manis di bangku kelas, mendengarkan sang guru menjelaskan secara detail tentang materi yang harus diselesaikan maka dalam outdoor learning ini peserta didik diajak langsung belajar diluar yang tidak biasanya dilakukan.
Peserta didik diajak langsung menyatu dengan alam terbuka untuk mencari dan menemukan ilmu baru dari apa yang telah dia lihat, apa yang dia temukan dengan cara observasi objek objek yang terkait dengan materi yang telah diberikan oleh pihak guru.
Outdoor learning senada pula dengan pendapat Paulo Freire (2002) yang mengatakan bahwa “every place is a school, everyone is teacher (setiap orang adalah guru, guru bisa siapa saja, dimana saja, serta hadir kapan saja, tanpa batas ruang, waktu, kondisi apapun)”. Hal ini menegaskan siapa saja dapat menjadi guru dan pembelajaran tidak harus berlangsung di dalam kelas, sebab setiap tempat dapat menjadi tempat untuk belajar. Konsep Paulo Freire sangat tepat bila dihubungkan dengan metode Outdoor Learning. Outdoor Learning dapat menjadi salah satu alternatif bagi pengayaan sumber pembelajaran (Hapiningsih, 2010)
Outdoor Learning memberikan dorongan perasaan kebebasan bagi siswa. Sebagai hasil dari tidak dibatasinya ruang berpikir siswa oleh dinding-dinding kelas. Sebagaimana diungkapkan Mary (2002: 1) bahwa:
“Thinking outside the box is sometimes difficult when students and teachers are working within the constraints of a traditional classroom. Students especially have their outlooks limited by classroom walls because they often do not yet have a wide perspective on the potential for their actions to have civic consequences”.

Berpikir kreatif terkadang sulit ketika siswa dan guru belajar dengan ketidakleluasaan di dalam kelas tradisional. Hal tersebut dikarenakan pandangan yang dimiliki siswa dibatasi dinding kelas sehingga mereka belum memiliki perspektif yang luas tentang potensi yang ada pada tindakan mereka sebagai konsekuensi agar dapat bermanfaat bagi kepentingan umum. Hal tersebut senada dengan yang dikemukakan Eaton (2000) bahwa “Outdoor Learning experiences were more effective for developing cognitive skills than classroom based learning” (Widowati, 2008: 8).
Ada berbagai bentuk implementasi Outdoor Learning yang dapat digunakan oleh guru di sekolah. Pertama, Jelajah Alam Sekitar (JAS). Pendekatan Jelajah Alam Sekitar merupakan pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan alam sekitar kehidupan peserta didik baik lingkungan fisik, sosial, teknologi maupun budaya sebagai objek belajar biologi yang fenomenanya dipelajari melalui kerja ilmiah. Model-model pembelajaran yang bisa dikembangkan dalam pendekatan JAS adalah model yang lebih bersifat student centered, lebih memaknakan sosial, lebih memanfaatkan multiresources dan assessment yang berbasis mastery learning. Beberapa strategi pembelajaan yang sejiwa dengan JAS antara lain CBSA, Inquri-based learning, problem based learning, cooperative learning, project-based learning, pendekatan keterampilan proses sains (Ridlo dan Rudiyatmi, 2002).
Kedua, investigasi sosial. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam menggali sumber tersebut adalah pendekatan inquiry melalui investigasi sosial. Dalam pendekatan yang dilakukan secara emansipatoris ini, siswa dipandang sebagai peserta belajar dan pengembang pengetahuan (knowledge) dan memiliki status yang equal atau mitra dengan guru. Model yang disebut Naturalistik Inquiry dari Lincold dan Guba ini dikembangkan dalam proses pembelajaran IPS melalui alat pengumpul data seperti pertanyaan/wawancara terhadap sumber belajar, observasi terhadap kenyataan sosial dan lain-lain. Guru IPS dapat mengembangkan model ini untuk memfasilitasi siswa sebagai subjek belajar dan bukan sebagai objek yang menerima pengetahuan dari guru dalam pembelajaran IPS (Supriatna, 2007).
Ketiga, karyawisata. Apabila ingin memberi gambaran atau penjelasan yang lebih kongkrit dari sekedar apa yang telah diberikan di kelas dan memang tidak memungkinkan terjadi di kelas, maka dapat diperoleh pengalaman-pengalaman langsung dan yang riil dengan jalan kunjungan-kunjungan khusus ke tempat-tempat tertentu. Tempat-tempat tersebut misalnya lingkungan (fasilitas) sekolah maupun lingkungan yang jauh sebagai metode karyawisata. Dalam pengertian pendidikan, karyawisata adalah kunjungan siswa keluar kelas untuk mempelajari obyek tertentu sebagai bagian integral dari kegiatan kurikuler di sekolah (Nana dan Rivai, 2010).
Keempat, praktikum lapang. Proses pembelajaran berbasis student centered learning (SCL) menitikberatkan kegiatan pembelajaran pada aktivitas yang langsung melibatkan siswa. Proses pembelajaran dalam bentuk praktikum diarahkan agar siswa memiliki kemampuan hardskill dari materi yang diberikan. Sehubungan dengan itu, proses pembelajaran praktikum dapat dilakukan di luar kelas (praktikum lapang). Pembelajaran praktikum lapangan adalah suatu proses untuk meningkatkan keterampilan peserta dengan menggunakan berbagai metode yang sesuai dengan keterampilan yang diberikan dan peralatan yang digunakan. Pembelajaran praktikum lapangan merupakan suatu proses pendidikan yang berfungsi membimbing peserta didik secara sistematis dan terarah untuk dapat melakukan suatu keterampilan .
Amihardja (2010) Kelima, Praktek Kerja Lapangan. Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah salah satu bentuk implementasi secara sistematis dan sinkron antara program pendidikan di sekolah dengan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan kerja secara langsung di dunia kerja untuk mencapai tingkat keahlian tertentu. Dunia kerja/dunia usaha merupakan sebuah laboratorium yang berada di luar lingkungan sekolah, tempat siswa akan menerima petunjuk dan bimbingan yang sangat berarti dalam bentuk kegiatan pelatihan, praktik langusng serta pengenalan terhadap berbagai hal misalnya sistem operasional, etika perusahaan, organisasi dan hirarki dalam perusahaan, perilaku dan sebagainya.
Keenam, Kemah. Perkemahan dapat dilakukan untuk menghayati bagaimana kehidupan alam seperti suhu, iklim, suasana, untuk untuk bidang ilmu pengetahuan alam seperti ekologi, biologi, fisika, dan kimia. Siswa dituntut merekam apa yang ia alami, rasakan, lihat dan kerjakan selama kemah berlangsung. Hasilnya dibawa ke sekolah untuk dibahas dan dipelajari bersama-sama.
Tahapan proses pembelajaran dengan menggunakan metode Outdoor Learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa dapat ditempuh dengan (Hamdan ali, 2008: 20) :
1. Guru menentukan lokasi di luar kelas
2. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok
3. Guru membuat panduan belajar siswa di luar kelas
4. Guru mengajak siswa ke luar kelas untuk melaksanakan proses pembelajaran
5. Guru mengajak siswa untuk berkumpul sesuai kelompoknya
6. Memberi salam dan mengabsen siswa
7. Memberi motivasi kepada siswa tentang pentingnya lingkungan sebagai sumber belajar
8. Guru memberikan panduan belajar kepada masing-masing kelompok disertai dengan penjelasan
9. Masing-masing kelompok berpencar pada lokasi untuk melakukan pengamatan sesuai dengan yang di tugaskan guru
10. Guru membimbing siswa selama pengamatan
11. Setelah siswa selesai melakukan pengamatan selanjutnya siswa diajak berkumpul kembali untuk mendiskusikan hasil pengamatan
12. Guru memandu siswa dalam melakukan diskusi dan diberi kesempatan memberi tanggapan
13. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan hambatan/kesulitan yang dialami dalam proses pembelajaran
14. Guru bersama siswa membuat kesimpulan.
Secara garis besar Menurut Hamzah dan Nurdin (2011: 146) konsep pembelajaran dengan menggunakan Metode Outdoor Learning memiliki beberapa kelebihan, antara lain sebagai berikut :
1. Peserta didik dibawa langsung kedalam dunia yang kongkret tentang penanaman konsep pembelajaran, sehingga peserta didik tidak hanya bisa menghayalkan materi;
2. Lingkungan dapat digunakan setiap saat, kapan pun dan dimana pun sehingga tersedia setiap saat, tetapi tergantung dari jenis materi yang sedang diajarkan;
3. Konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan tidak membutuhkan biaya karena semua telah disediakan oleh alam lingkungan;
4. Mudah di cerna oleh pesrta didik karena pesrta didik disajikan materi yang sifatnya konkret bukan abstrak;
5. Peserta didik akan lebih leluasa dalam berfikir dan cenderung untuk memikirkan materi yang diajarkan karena materi yang diajarkan telah tersaji didepan mata (konkret).
Menurut Hamzah dan Nurdin (2011: 147) dalam aplikasinya, konsep pembelajaran dengan menggunakan Outdoor Learning memilik beberapa kelemahan antara lain adalah sebagai berikut :
1. Lebih cenderung digunakan pada mata pelajaran IPA atau sains dan sejenisnya;
2. Perbedaan kondisi lingkungan disetiap daerah (dataran rendah dan dataran tinggi);
3. Adanya pergantian musim yang menyebabkan perubahan kondisi lingkungan setiap saat;
4. Timbulnya bencana alam;
Dari berbagai penjelasan diatas diharapkan siswa SMP Kesatrian 2 semarang mampu menemukan ilmu baru yang sangat berarti dan bermanfaat bagi dirinya tanpa penjelasan dari guru.

SAMBUTAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI DALAM PERINGATAN HARI KESAKTIAN PANCASILA 1 OKTOBER 2014

Assalamu’alaikum Wr. Wb. dan salam sejahtera,

Alhamdulillah, marilah kita senantiasa bersyukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kita, sehingga besok pagi, insya Allah, secara serentak kita akan memperingati Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober tahun 2014.

Disamping telah mempersatukan kita sebagai bangsa dan negara secara utuh, Pancasila memperkuat sendi-sendi kehidupan sosial, ekonomi, budaya, politik masyarakat kita. Nilai-nilai Pancasila telah membuat masyarakat kita semakin matang dalam kehidupan politik sebagaimana telah kita tampilkan dalam Pemilu beberapa waktu yang lalu. Hal ini juga sekaligus menepis seolah-olah Pancasila kurang memperoleh perhatian bersama sejak Reformasi 1998.

Oleh sebab itulah, tema peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 2014 ini, “Penguatan Nilai-Nilai Pancasila Untuk Meningkatkan Kualitas Demokrasi” sangatlah tepat.

Kenyataan sosial politik seperti ini sudah seharusnya meneguhkan sikap kita bahwa Pancasila adalah sumber nilai jati diri bangsa sekaligus fondasi negara kita. Sebagai falsafah negara, Pancasila menjadi acuan kita dalam mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera.

Saudara-saudara Sebangsa dan Setanah Air Yang Saya Muliakan,

Salah satu fenomena dalam era Globalisasi adalah terjadinya lintas batas nilai-nilai antar bangsa bahkan antar komunitas atau kelompok-kelompok masyarakat yang lebih kecil. Di antara nilai atau faham yang melintas-batas itu adalah radikalisme. Faham ini karakternya adalah selalu merasa yang paling benar sendiri dan mengabaikan hak-hak dasar orang lain.

Sudah tentu radikalisme dan faham sejenis lainnya sangatlah bertentangan dengan Pancasila yang sangat menghormati dan menghargai kebhinekaan. Oleh karena itu, kita harus bersyukur dan terus memperkuat Pancasila yang telah menunjukkan dan memungkinkan kita hidup berdampingan secara damai, harmonis dan penuh toleransi dengan siapa saja yang berbeda latar belakang agama, suku, ras, adat istiadat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sekaligus, kita harus mengikis benih dan tumbuhnya nilai-faham radikalisme dan sejenisnya.

Saudara-saudara Sekalian Yang Saya Hormati,

Kita semua, tentu ingin membangun bangsa yang berperadaban unggul, yang salah satu cirinya adalah bangsa yang mampu menunjukkan karakter dan jati dirinya, tanpa harus kehilangan kesempatan dan kemampuan berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain, sekaligus mampu mengaktualisasikan makna yang dikandungnya sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, Pancasila menjadi sistem nilai yang hidup.

Untuk itu, kita harus terus-menerus menumbuhkembangkan Nilai-nilai Pancasila kepada semua generasi, utamanya para generasi penerus bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Dalam konteks ini, pendidikan merupakan sistem yang bisa melakukannya secara efektif, karena melalui sistem pendidikan, penggalian, penanaman, pengembangan dan pengamalan nilai Pancasila dapat dilakukan secara sistemik, sistematik dan secara masif.

Alhamdulillah, mulai tahun 2013, seiring dengan implementasi Kurikulum 2013, kita telah melakukan penguatan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan mata pelajaran lainnya, baik substansi maupun metodologi pembelajarannya, agar dapat dihasilkan warga negara yang semakin cinta dan bangga terhadap bangsa dan negaranya, sekaligus menjadi warga Negara yang efektif dan bertanggung jawab.

Saudara-saudara Sekalian Yang Saya Muliakan,

Akhirnya, peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang kita peringati setiap tahun haruslah kita jadikan sebagai upaya melestarikan, mengamalkan, mengembangkan dan mempromosikan Pancasila sebagai sumber nilai yang telah teruji dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selamat memperingati Hari Kesaktian Pancasila 2014, semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, senantisa membimbing dan meridhoi usaha kita semua. Dan semoga apa yang kita lakukan termasuk bagian dari amal kebajikan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, 30 September 2014
MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN,

MOHAMMAD NU

Buku Kurikulum 2013 Langka di Sekolah NTB, Tapi Dijual di Pasar

Liputan6.com, Jakarta – Saat ini buku kurikulum 2013 masih menjadi beban bagi siswa SMA dan SMK di Kabupaten Lombok Timur, NTB. Buku yang seharusnya menjadi tanggung jawab sekolah terpaksa harus dibeli sendiri oleh orangtua siswa.

Puluhan siswa dan wali siswa mengeluh akibat tidak adanya kontribusi pemerintah untuk menyediakan buku pelajaran tersebut, sedangkan di pasaran buku kurikulum 2013 bebas dijual.

“Siswa harus membeli buku sendiri, kadang-kadang harus memfoto copy sendiri tema pelajaran. Hal ini sangat memberatkan wali siswa. Anehnya buku kurikulum 2013 sudah ada di pasaran,” ujar Assa’irul Kabir, salah seorang wali siswa SMA Negeri 2 Selong, Selasa (16/9/2014).

Terkait keluhan tersebut, Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dikpora Kabupaten Lombok Timur Supriadi merasa heran kenapa buku-buku tersebut dijual bebas di pasaran. Padahal seharusnya buku-buku tersebut lebih dulu ada di sekolah.

“Karena banyaknya satuan pendidikan yang melakukan pemesanan sepertinya penyedia kewalahan melakukan distribusi,” kata Supriadi.

Dia menambahkan, sesuai dengan peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 34 tahun 2014 tentang mekanisme pemesanan buku tahun 2014, seharusnya buku buku tersebut sudah diterima setiap sekolah sejak Juli lalu.

Untuk mengakali keterlambatan buku, saat ini Kementerian Diknas memberikan solusi dengan mengirimkan CD berisi softcopy buku-buku yang dipesan agar setiap sekolah mencetak secara bertahap isi CD tersebut.

“Sebagai solusi masing-masing sekolah diharapkan mencetak dengan bertahap isinya sesuai dengan bahasan dan subbahasan,” tandas Supriadi.