{"id":566,"date":"2014-10-02T02:43:04","date_gmt":"2014-10-02T02:43:04","guid":{"rendered":"http:\/\/portal.smpkesatrian2smg.sch.id\/?p=566"},"modified":"2014-10-07T05:10:49","modified_gmt":"2014-10-07T05:10:49","slug":"oudoor-learning","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portal.smpkesatrian2smg.sch.id\/?p=566","title":{"rendered":"OUTDOOR LEARNING"},"content":{"rendered":"<p style='\"text-align:' justify>Awal bulan oktober menjadi hari hari yang padat merayap untuk seluruh civitas academika SMP Kesatrian 2 Semarang, banyak agenda kegiatan yang harus segera diselesaikan dan perencanaan kegitan yang harus matang. Beberapa kegiatan yang sebentar lagi dilaksanakan adalah perayaan hari raya idul adha, outdoor leraning Jakarta untuk kelas VIII, outdoor learning Jogya untuk kelas VII tak ketinggalan kelas IX yang tak lama lagi mereka harus bertarung menghadapi Ujian Nasional maka mereka dipersiapkan dari sekarang, dan salah satu kegiatan yang bisa membantu siswa kelas IX untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam UN antara lain SMP Kesatrian 2 Semarang mengadakan try Out khusus kelas IX.<br>\nOutdoor lerning, apa itu outdoor learning ??? secara kasat mata outdoor learning bisa diartikan pembelajaran diluar, pembelajaran yang pada hari hari biasa peserta didik duduk manis di bangku kelas, mendengarkan sang guru menjelaskan secara detail tentang materi yang harus diselesaikan maka dalam outdoor learning ini peserta didik diajak langsung belajar diluar yang tidak biasanya dilakukan.<br>\nPeserta didik diajak langsung menyatu dengan alam terbuka untuk mencari dan menemukan ilmu baru dari apa yang telah dia lihat, apa yang dia temukan dengan cara observasi objek objek yang terkait dengan materi yang telah diberikan oleh pihak guru.<br>\nOutdoor learning senada pula dengan pendapat Paulo Freire (2002) yang mengatakan bahwa “every place is a school, everyone is teacher (setiap orang adalah guru, guru bisa siapa saja, dimana saja, serta hadir kapan saja, tanpa batas ruang, waktu, kondisi apapun)”. Hal ini menegaskan siapa saja dapat menjadi guru dan pembelajaran tidak harus berlangsung di dalam kelas, sebab setiap tempat dapat menjadi tempat untuk belajar. Konsep Paulo Freire sangat tepat bila dihubungkan dengan metode Outdoor Learning. Outdoor Learning dapat menjadi salah satu alternatif bagi pengayaan sumber pembelajaran (Hapiningsih, 2010)<br>\nOutdoor Learning memberikan dorongan perasaan kebebasan bagi siswa. Sebagai hasil dari tidak dibatasinya ruang berpikir siswa oleh dinding-dinding kelas. Sebagaimana diungkapkan Mary (2002: 1) bahwa:<br>\n“Thinking outside the box is sometimes difficult when students and teachers are working within the constraints of a traditional classroom. Students especially have their outlooks limited by classroom walls because they often do not yet have a wide perspective on the potential for their actions to have civic consequences”.&lt;\/p&gt;\n</p>
<p style='\"text-align:' justify>Berpikir kreatif terkadang sulit ketika siswa dan guru belajar dengan ketidakleluasaan di dalam kelas tradisional. Hal tersebut dikarenakan pandangan yang dimiliki siswa dibatasi dinding kelas sehingga mereka belum memiliki perspektif yang luas tentang potensi yang ada pada tindakan mereka sebagai konsekuensi agar dapat bermanfaat bagi kepentingan umum. Hal tersebut senada dengan yang dikemukakan Eaton (2000) bahwa \u201cOutdoor Learning experiences were more effective for developing cognitive skills than classroom based learning\u201d (Widowati, 2008: 8).<br>\nAda berbagai bentuk implementasi Outdoor Learning yang dapat digunakan oleh guru di sekolah. Pertama, Jelajah Alam Sekitar (JAS). Pendekatan Jelajah Alam Sekitar merupakan pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan alam sekitar kehidupan peserta didik baik lingkungan fisik, sosial, teknologi maupun budaya sebagai objek belajar biologi yang fenomenanya dipelajari melalui kerja ilmiah. Model-model pembelajaran yang bisa dikembangkan dalam pendekatan JAS adalah model yang lebih bersifat student centered, lebih memaknakan sosial, lebih memanfaatkan multiresources dan assessment yang berbasis mastery learning. Beberapa strategi pembelajaan yang sejiwa dengan JAS antara lain CBSA, Inquri-based learning, problem based learning, cooperative learning, project-based learning, pendekatan keterampilan proses sains (Ridlo dan Rudiyatmi, 2002).<br>\nKedua, investigasi sosial. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam menggali sumber tersebut adalah pendekatan inquiry melalui investigasi sosial. Dalam pendekatan yang dilakukan secara emansipatoris ini, siswa dipandang sebagai peserta belajar dan pengembang pengetahuan (knowledge) dan memiliki status yang equal atau mitra dengan guru. Model yang disebut Naturalistik Inquiry dari Lincold dan Guba ini dikembangkan dalam proses pembelajaran IPS melalui alat pengumpul data seperti pertanyaan\/wawancara terhadap sumber belajar, observasi terhadap kenyataan sosial dan lain-lain. Guru IPS dapat mengembangkan model ini untuk memfasilitasi siswa sebagai subjek belajar dan bukan sebagai objek yang menerima pengetahuan dari guru dalam pembelajaran IPS (Supriatna, 2007).<br>\nKetiga, karyawisata. Apabila ingin memberi gambaran atau penjelasan yang lebih kongkrit dari sekedar apa yang telah diberikan di kelas dan memang tidak memungkinkan terjadi di kelas, maka dapat diperoleh pengalaman-pengalaman langsung dan yang riil dengan jalan kunjungan-kunjungan khusus ke tempat-tempat tertentu. Tempat-tempat tersebut misalnya lingkungan (fasilitas) sekolah maupun lingkungan yang jauh sebagai metode karyawisata. Dalam pengertian pendidikan, karyawisata adalah kunjungan siswa keluar kelas untuk mempelajari obyek tertentu sebagai bagian integral dari kegiatan kurikuler di sekolah (Nana dan Rivai, 2010).<br>\nKeempat, praktikum lapang. Proses pembelajaran berbasis student centered learning (SCL) menitikberatkan kegiatan pembelajaran pada aktivitas yang langsung melibatkan siswa. Proses pembelajaran dalam bentuk praktikum diarahkan agar siswa memiliki kemampuan hardskill dari materi yang diberikan. Sehubungan dengan itu, proses pembelajaran praktikum dapat dilakukan di luar kelas (praktikum lapang). Pembelajaran praktikum lapangan adalah suatu proses untuk meningkatkan keterampilan peserta dengan menggunakan berbagai metode yang sesuai dengan keterampilan yang diberikan dan peralatan yang digunakan. Pembelajaran praktikum lapangan merupakan suatu proses pendidikan yang berfungsi membimbing peserta didik secara sistematis dan terarah untuk dapat melakukan suatu keterampilan .<br>\nAmihardja (2010) Kelima, Praktek Kerja Lapangan. Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah salah satu bentuk implementasi secara sistematis dan sinkron antara program pendidikan di sekolah dengan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan kerja secara langsung di dunia kerja untuk mencapai tingkat keahlian tertentu. Dunia kerja\/dunia usaha merupakan sebuah laboratorium yang berada di luar lingkungan sekolah, tempat siswa akan menerima petunjuk dan bimbingan yang sangat berarti dalam bentuk kegiatan pelatihan, praktik langusng serta pengenalan terhadap berbagai hal misalnya sistem operasional, etika perusahaan, organisasi dan hirarki dalam perusahaan, perilaku dan sebagainya.<br>\nKeenam, Kemah. Perkemahan dapat dilakukan untuk menghayati bagaimana kehidupan alam seperti suhu, iklim, suasana, untuk untuk bidang ilmu pengetahuan alam seperti ekologi, biologi, fisika, dan kimia. Siswa dituntut merekam apa yang ia alami, rasakan, lihat dan kerjakan selama kemah berlangsung. Hasilnya dibawa ke sekolah untuk dibahas dan dipelajari bersama-sama.<br>\nTahapan proses pembelajaran dengan menggunakan metode Outdoor Learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa dapat ditempuh dengan (Hamdan ali, 2008: 20) :<br>\n1. Guru menentukan lokasi di luar kelas<br>\n2. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok<br>\n3. Guru membuat panduan belajar siswa di luar kelas<br>\n4. Guru mengajak siswa ke luar kelas untuk melaksanakan proses pembelajaran<br>\n5. Guru mengajak siswa untuk berkumpul sesuai kelompoknya<br>\n6. Memberi salam dan mengabsen siswa<br>\n7. Memberi motivasi kepada siswa tentang pentingnya lingkungan sebagai sumber belajar<br>\n8. Guru memberikan panduan belajar kepada masing-masing kelompok disertai dengan penjelasan<br>\n9. Masing-masing kelompok berpencar pada lokasi untuk melakukan pengamatan sesuai dengan yang di tugaskan guru<br>\n10. Guru membimbing siswa selama pengamatan<br>\n11. Setelah siswa selesai melakukan pengamatan selanjutnya siswa diajak berkumpul kembali untuk mendiskusikan hasil pengamatan<br>\n12. Guru memandu siswa dalam melakukan diskusi dan diberi kesempatan memberi tanggapan<br>\n13. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan hambatan\/kesulitan yang dialami dalam proses pembelajaran<br>\n14. Guru bersama siswa membuat kesimpulan.<br>\nSecara garis besar Menurut Hamzah dan Nurdin (2011: 146) konsep pembelajaran dengan menggunakan Metode Outdoor Learning memiliki beberapa kelebihan, antara lain sebagai berikut :<br>\n1. Peserta didik dibawa langsung kedalam dunia yang kongkret tentang penanaman konsep pembelajaran, sehingga peserta didik tidak hanya bisa menghayalkan materi;<br>\n2. Lingkungan dapat digunakan setiap saat, kapan pun dan dimana pun sehingga tersedia setiap saat, tetapi tergantung dari jenis materi yang sedang diajarkan;<br>\n3. Konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan tidak membutuhkan biaya karena semua telah disediakan oleh alam lingkungan;<br>\n4. Mudah di cerna oleh pesrta didik karena pesrta didik disajikan materi yang sifatnya konkret bukan abstrak;<br>\n5. Peserta didik akan lebih leluasa dalam berfikir dan cenderung untuk memikirkan materi yang diajarkan karena materi yang diajarkan telah tersaji didepan mata (konkret).<br>\nMenurut Hamzah dan Nurdin (2011: 147) dalam aplikasinya, konsep pembelajaran dengan menggunakan Outdoor Learning memilik beberapa kelemahan antara lain adalah sebagai berikut :<br>\n1. Lebih cenderung digunakan pada mata pelajaran IPA atau sains dan sejenisnya;<br>\n2. Perbedaan kondisi lingkungan disetiap daerah (dataran rendah dan dataran tinggi);<br>\n3. Adanya pergantian musim yang menyebabkan perubahan kondisi lingkungan setiap saat;<br>\n4. Timbulnya bencana alam;<br>\nDari berbagai penjelasan diatas diharapkan siswa SMP Kesatrian 2 semarang mampu menemukan ilmu baru yang sangat berarti dan bermanfaat bagi dirinya tanpa penjelasan dari guru.&lt;\/p&gt;\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"</p>
<p>Awal bulan oktober menjadi hari hari yang padat merayap untuk seluruh civitas academika SMP Kesatrian 2 Semarang, banyak agenda kegiatan yang harus segera diselesaikan dan perencanaan kegitan yang harus matang. Beberapa kegiatan yang sebentar lagi dilaksanakan adalah perayaan hari raya idul adha, outdoor leraning Jakarta untuk kelas VIII, outdoor learning Jogya untuk kelas VII tak … &lt;\/p&gt;\n</p>
<p><a class='\"more-link' btn href="%5C%22https:%5C/%5C/portal.smpkesatrian2smg.sch.id%5C/?p=566%5C%22">Continue reading&lt;\/a&gt;&lt;\/p&gt;\n","protected":false},"author":1,"featured_media":565,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portal.smpkesatrian2smg.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/566"}],"collection":[{"href":"https:\/\/portal.smpkesatrian2smg.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portal.smpkesatrian2smg.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portal.smpkesatrian2smg.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portal.smpkesatrian2smg.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&amp;post=566"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/portal.smpkesatrian2smg.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/566\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":570,"href":"https:\/\/portal.smpkesatrian2smg.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/566\/revisions\/570"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portal.smpkesatrian2smg.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/565"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portal.smpkesatrian2smg.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&amp;parent=566"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portal.smpkesatrian2smg.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&amp;post=566"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portal.smpkesatrian2smg.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&amp;post=566"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}</a></p>
